Benteng Kedung Cowek, Saksi Sejarah Tragis Kini Kondisinya Miris

Kondisi Benteng Kedung Cowek Surabaya (foto: Artie Rahardjo/Blok-a.com)
Kondisi Benteng Kedung Cowek Surabaya (foto: Artie Rahardjo/Blok-a.com)

Surabaya.blok-a.com – Benteng Kedung Cowek adalah salah satu bangunan bersejarah yang megah di Surabaya. Dulunya merupakan basis pertahanan yang dilengkapi dengan beragam senjata berat, salah satunya meriam besar yang dipasang pada dinding-dindingnya.

Dibangun pada masa Pemerintahan Belanda sebagai tempat penyimpanan senjata serta pertahanan. Di sini terdapat sembilan bunker Gudang persenjataan, baik senapan, peluru maupun meriam besar.

Pembangunan Benteng Kedung Cowek dimulai pada tahun 1900, menurut cetak biru yang ditandatangani oleh Kapten Zeni J. C. Proper tertanggal 15 Januari tahun yang sama. Benteng Kedung Cowek berdiri di atas tanah dengan luas sekitar 71.876 m2. Pendiriannya menghabiskan dana sekitar 5 juta gulden. Tujuannya, benteng ini dapat memperkuat armada Belanda dalam Perang Pasifik melawan pasukan Inggris.

Benteng Kedung Cowek sempat berdiri kokoh selama beberapa tahun. Namun pada akhirnya, Belanda gagal mempertahankannya dari gempuran pasukan Jepang, hingga terpaksa harus rela melepas kepemilikannya.

Belum lama menduduki benteng, Jepang malah terusir kembali. Itu terjadi setelah militer mereka gagal menghadapi serangan sekutu NICA. Bahkan kala itu, militer Jepang belum sempat mempergunakan persenjataan berat hasil rampasan dari Belanda yang tersimpan di bunker benteng.

Tercatat, sudah tiga kali Benteng Kedung Cowek berganti kepemilikan. Tapi nyatanya, benteng ini lagi-lagi berhasil jatuh ke tangan pihak yang lain, kali ini oleh para pejuang TKR dan Pasukan Sriwijaya. Itu terjadi dalam peristiwa Perang 10 November 1945, bersamaan dengan perlawanan arek-arek Suroboyo di Hotel Yamato.

Persenjataan bekas peninggalan tentara kolonial pun berhasil dirampas. Oleh pejuang Indonesia digunakan dalam penyerangan atas militer laut NICA pimpinan Inggris.

Empat kali menjadi dinding pertahanan, Benteng Kedung Cowek tentu saja menjadi saksi bisu gugurnya ratusan, bahkan ribuan tentara yang meninggal dalam peperangan. Di pihak Indonesia sendiri, diperkirakan sebanyak 200 pejuang gugur kala merebut mempertahankan benteng dari pasukan Sekutu.

Kini, Benteng Kedung Cowek tampak terbengkalai dan kurang terawat. Terlebih, lokasinya yang berada di Kelurahan Kedung Cowek, Kecamatan Bulak, Surabaya, dekat Jembatan Suramadu, cukup jauh dari pusat kota. Itu menjadi salah satu alasan, mengapa keberadaannya kurang mendapatkan perhatian dari khalayak, khususnya pemerintah setempat. Apalagi lokasi benteng juga tersembunyi, menjadikannya sepi dan terkesan angker. (mg3/gni)