Kesaksian Operator Alat Berat saat Didemo Puluhan Warga Sawoan Mojokerto

Operator excavator CV RF Bersaudara Muhamad Aris saat memberikan kesaksian kepada awak media di kantor LBH Djawa Dwipa dan LKH Barracuda.(blok-a.com/Syahrul Wijaya)
Operator excavator CV RF Bersaudara Muhamad Aris saat memberikan kesaksian kepada awak media di kantor LBH Djawa Dwipa dan LKH Barracuda.(blok-a.com/Syahrul Wijaya)

Mojokerto, blok-a.com – Kasus demo warga terhadap pengelola galian C di Dusun Sawoan, Desa sawo, Kecamatan Kutorejo, pada Jumat (13/9/2024) lalu menjadi topik hangat di Kabupaten Mojokerto.

Dilaporkan, puluhan warga menyerang alat berat atau excavator yang digunakan untuk memperbaiki jalan di lahan Khoirul Anwar, pemilik CV RF Bersaudara.

Massa dikabarkan terus melempari alat berat dengan batu dan batu bata sambil meneriaki kalimat bernada ancaman kepada operator excavator, Muhamad Aris.

Atas mencuatnya kasus tersebut, Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Djawa Dwipa dan Lembaga Kajian Hukum (LKH) Barracuda Hadi Purwanto, S.T., S.H., menghadirkan operator, pembantu operator, dan koordinator lapangan CV RF Bersaudara untuk memberikan kesaksian pada Selasa (8/10/2024).

Perlu diketahui, CV RF Bersaudara telah memiliki izin pertambangan yaitu Izin WIUP dengan Kode WIUP: 2235165402023042, dan IUP Eksplorasi dengan Nomor Izin: 17062200642070003, dengan lokasi di Desa Karangdiyeng, dan Desa Sawo, Kecamatan Kutorejo, untuk komoditas kerikil berpasir alami (Sirtu) dengan luas 6.43 Ha, yang telah terbit pada 25 September 2023 lalu.

“Jadi kami berhak menata jalan maupun membersihkan rumput di lahan kami sendiri yang rencana untuk digunakan dalam kegiatan pertambangan sambil menunggu IUP Operasi Produksi terbit,” tegas Hadi di Kantor LBH Djawa Dwipa, sekaligus sebagai kuasa hukum Khoirul Anwar pemilik CV RF Bersaudara.

Dalam kesaksiannya, Muhamad Aris, mengatakan bahwa saat insiden demo tersebut, dirinya tengah memperbaiki jalan menuju lahan galian milik CV RF Bersaudara. Tiba-tiba, ia didatangi dua orang dengan mengancam akan membunuh dan membakar excavator jika tidak meninggalkan lokasi.

“Saat saya memperbaiki jalan dan membersihkan rumput di lahan milik Pak Anwar, tiba-tiba datang dua orang pakai kaos merah, dan kaos putih. Mengancam akan membunuh saya dan akan membakar excavator jika saya masih tetap memperbaiki jalan. Selang beberapa menit datang puluhan orang warga berteriak-teriak bakar, bakar, bunuh, bunuh, dengan melempari ke arah excavator dengan batu, dan batu bata,” terangnya.

Muhammad Aris menambahkan, warga yang sudah tersulut emosi mengeroyok dirinya dengan naik ke ruang operator dan beberapa orang mencekik lehernya, sambil terus memberikan kalimat ancaman.

“Belasan orang naik ke ruang operator excavator dan mencekik leher saya, hingga saya terangkat dari tempat duduk, dan yang lainnya terus berteriak bakar, bakar, bunuh, bunuh. Cukup lama saya dicekik hingga saya merasa kesakitan, dan ini bekas cekikan itu (sambil menunjukkan leher bekas cekikan),” imbuhnya.

Sementara, pembantu operator, Ifan Susanto juga mengatakan bahwa memang benar ada warga yang tiba-tiba menyerang dan mengancam akan membunuh dan membakar operator excavator yang sedang bekerja memperbaiki jalan.

“Saya juga jadi sasaran amukan warga saat itu yang datang dengan tiba-tiba, saya berada disebelah kiri Aris. Memang benar warga yang emosi melempari ke arah excavator dengan batu dan batu bata, mereka juga mengancam akan membakar dan membunuh,” tegasnya.

Ifan bersaksi di depan semua yang hadir. “Saya bersaksi dan sangat yakin ada pelemparan batu ke excavator kami, pencekikan kepada Aris dan pengancaman pembunuhan serta pembakaran. Kesaksian saya ini berani saya pertanggungjawabkan secara hukum,” ujarnya.

Kesaksian juga disampaikan oleh koordinator lapangan, Akhiyat. Menurutnya, warga yang datang bukan hanya laki-laki saja. Namun banyak perempuan juga anak-anak.

“Warga yang demo itu mendadak datang, dan disiarkan di pengeras suara untuk menggerakkan warga. Saya tidak tahu kalau mau ada demo warga, mendadak warga datang dengan melempari batu dan mengancam akan membakar dan membunuh operator excavator,” jelasnya.

Warga Bantah Aksi Anarkis

Terpisah, pihak warga, Sumartik saat dikonfirmasi membantah jika warga Desa Sawoan berbuat anarkis.

Menurutnya, tidak ada warga yang menganiaya operator excavator, bahkan mengancam akan membakar dan membunuh.

“Memang warga Desa Sawoan tidak setuju dengan adanya galian C, mereka kompak. Namun tidak ada warga yang mencekik operator, hanya menyuruhnya untuk pergi,” ungkapnya.

Sumartik keberatan jika dirinya dituduh sebagai provokator. Padahal dirinya mengaku tidak ada di lokasi saat kejadian demo warga Sawoan.

“Kulo (saya) dituduh provokator, apa waktu kejadian itu tanya masyarakat kalau saya di sana. Ndak ada saya di sana pak, di sana ndak ada saya sama sekali,” tegas Sumartik.

Lebih lanjut ia menjelaskan, pihaknya telah mendampingi warga sejak dua tahun lalu. Warga kompak, bahwa tidak boleh ada pengusaha masuk di dusun tersebut.

“Malah sebelum saya mendampingi dua tahun yang lalu, itu sudah gejolak pak di situ. Pokoknya masyarakat kompak, menyala, nggak bisa pengusaha masuk, nggak bisa, saya jamin. Mereka semakin berani, karena punya pengalaman. Mungkin dengan adanya saya dua tahun tutup, lima bulan lalu ada pengusaha berusaha masuk diusir dan keluar,” tutupnya.(sya/lio)