Debat Seru Pemilihan Ketua KJJT Surabaya

Surabaya, blok-a.com – Pembentukan Komunitas Jurnalis Jawa Timur (KJJT) wilayah Surabaya diwarnai dinamika yang menarik. Ada debat seru antar calon ketua, dan pemaparan visi misi.

Minggu (12/2/2023), musyawarah pembentukan KJJT Cabang Surabaya, itu diikuti puluhan anggota, jurnalis dari Surabaya dan sekitarnya, Lamongan dan Bangkalan.

Mereka yang dari luar Surabaya, hadir untuk memberi semangat dan dukungan dalam musyawarah pertama pembentukan KJJT Surabaya ini.

Alhasil musyawarah dengan debat seru yang diawali kajian teknik penulisan berita dan kapasitas jurnalis di era disrupsi informasi itu berhasil memilih jajaran kepengurusan.

Ketua terpilih yakni Slamet dan Sekretaris, Mawardi alias Jay. Sementara tiga orang kandidat Ketua yang menyatakan tidak siap dicalonkan itu, bersedia mengisi jabatan kepengurusan.

Ade S Maulana, Ketua KJJT, hadir bersama jajaran pengurus, Agusnal Fitralius, Sekretaris, untuk mendampingi langsung jalannya pemilihan hingga selesai.

Sedikitnya, 28 orang wartawan yang bertugas di Surabaya, dan sekitarnya, melakukan musyawarah KJJT untuk membentuk pengurus di Surabaya.

Menariknya musyawarah pembentukan KJJT Surabaya I itu digelar di aula Media Center Kompleks Dalam Masjid Al Hidayah Darmo Indah Barat, Kecamatan Tandes, Kota Surabaya.

Selain dihadiri jurnalis Surabaya, anggota KJJT Bojonegoro, dipimpin Ketuanya, Solikin juga turut menghadiri forum ini mendukung.

Sebelum acara dimulai, dosen jurnalistik KJJT, Isma Hakim Rahmat, menjelaskan posisi dan eksistensi pers dan jurnalis di era disrupsi informasi.

Menurut Cak Isma, biasa disapa, wartawan yang bertugas di era banjirnya informasi internet itu harus memegang teguh kaidah.

Kaidah yang dimaksud adalah mempertahankan kejujuran, kesucian dan kebenaran informasi. Dengan begitu jaminan kemerdekaan pers terpenuhi.

Ketika jaminan kebebasan pers yang menyebarluaskan informasi dengan jujur, benar dan murni tanpa tekanan maka kemerdekaan pers di negara ini terjamin.

“Pada gilirannya, jurnalis dan pers ketika menjalankan tugasnya secara istikamah dan menjunjung nilai kebenaran, saat itu pula prasyarat martabat itu terpenuhi. Dan hal itu cocok dengan tema Hari Pers Nasional 2023 yakni ‘pers bebas, demokrasi bermartabat,” ujarnya.

KJJT didirikan untuk menjadi wadah pendidikan jurnalis. Pilihan KJJT berdiri sebagai kawah pendidikan jurnalis untuk menjawab ‘gugatan’ dan stigma masyarakat tentang wartawan itu, agar profesional dan kompeten.

“Demokrasi bermartabat, karena di dalamnya ada pers yang menyebarkan informasi secara jujur, lurus, dan benar. Intelektualitasnya baik,” ujar Cak Isma.

Dia berharap wartawan yang bergabung di KJJT, terus belajar menimba ilmu. Sampai karakter attitude terbentuk, sebagai personal wartawan yang santun dalam tindakan. Cerdas dalam menganalisa. Baik dalam menulis. Jujur dalam menuangkan fakta.

“Wartawan itu harus meniru bulir Padi, semakin tua, padat, dan berisi, semakin merunduk,” tandasnya.

Ditegaskan bahwa KJJT jika memilih sebagai wadah pendidikan, silaturahim dan pembelajaran sosial itu dipertahankan maka bukan tidak mungkin dalam waktu-waktu dekat akan jadi organisasi terbesar di Indonesia.

“Apalagi anggotanya memiliki prinsip belajar tidak kenal usia. Dengan belajar terus menerus, jiwa akan terus merasa muda, alias awet muda,” tukasnya.(kim)