Jansen Jasien Semarakkan HPN 2024, Gelar Pameran Lukisan di Hall PWI Jatim

Jansen Jasien dan lukisannya. (dok. Suarasurabaya)
Jansen Jasien dan lukisannya. (dok. Suarasurabaya)

Surabaya, blok-a.com – Jansen Jasien, pelukis kesohor yang bermukim di Krian, Sidoarjo, meramaikan hari pers nasional (HPN) 2024 dengan menggelar pameran lukisan, di hall PWI Jatim Jalan Taman Apsari 15-17 Surabaya, Rabu (28/2/2024) besok.

Ketua PWI Jatim Lutfil Hakim, mengatakan karya jurnalistik, karya musik dan karya lukis, adalah tiga hal yang berbeda, tetapi pelakunya ada kemiripan. Sama-sama memiliki jiwa seni.

Wartawan, menurutnya, menuangkan pengamatannya dalam bentuk tulisan. Musisi menyalurkan jiwa seninya dalam bentuk nada dan irama. Sedangkan pelukis meluapkan emosi seninya di atas kanvas.

Sengaja pada peringatan HPN 2024 dan HUT ke-78 PWI Tingkat Jawa Timur diisi aneka kegiatan, di antaranya Pagelaran Musik Jazz dan Pameran Lukisan.

“Di pembukaan kemarin ada pagelaran jazz musik. Bersama Saharani, Faris RM, dan Ahmad Dhani. Musik jazz mirip jurnalistik, bebas improvisasi. Musik jazz patuh pada backbone lagu yang dibawakan,” jelasnya.

Sedangkan jurnalistik, dalam bingkai pers, meski dijamin kebebasannya tetap tunduk kepada aneka regulasi yang mengepungnya, termasuk kode etik jurnalistik.

Pada pelukis, juga bebas mengekspresikan corat-coretnya di atas kanvas, tapi luapan-emosinya tetap konsisten terikat tema yang disuguhkan.

“Jansen Jasien (JJ), pelukis yang tampil tunggal pada pameran lukisan di moment HPN 2024 dan HUT PWI ke 78 tingkat Jatim, mengambil tema; Jelajah Peradaban Leluhur,” jelas Lutfil.

lukisan Jansen Jasien.

Pameran ini akan digelar di Aula PWI pada 28 Februari hingga 5 Maret 2024.

Di sini JJ mencoba merekam sejarah peradaban para leluhur dan mengekspresikannya melalui oil on canvas.

Dia tidak sekadar menyuguhkan lukisan, tapi di balik itu ada pesan kuat pentingnya menjadikan budaya leluhur sebagai jangkar kehidupan anak bangsa ke depan.

Pada pameran tunggalnya, JJ juga menyisipkan sejumlah artefak hasil penjelajahannya, sehingga semakin mengkentalkan ruang pameran dengan nuansa peradaban para leluhur, termasuk harum bau dupa, kemenyan dan gondo arum kembang sekar.

Pengunjung digiring untuk masuk ke ruang masa silam, sebagai upaya pengenalan dan penghormatan pada karya, peradaban dan kebudayaan para leluhur.

“Pameran kali ini memang sengaja saya darmakan kepada para leluhur,” kata Jansen Jasien.

Sementara Kurator Lukisan, Nathan Santoso memandang, seni dan budaya adalah jejak manusia pada peradabannya.

Dia mencontohkan pada Budaya Mesopotamia dikenal karena artefak The Male Worshipper-nya, Mesir dengan Tutankhamuns Mask-nya.

“Kala dunia terlena dengan sebuah miskonsepsi tentang seni, kala karya seni dikebiri dari perannya sebagai sebuah catatan sejarah hingga menjadi sebuah objek estetika belaka, objek pemuas gairah narisistik, sahabat selfie manusia abad ke-21, Jansen Jasien, bertahan dengan visi mulia: menjadi saksi sejarah, pencatat peradaban nusantara untuk mendatang,” kata kurator lukisan ternama itu.

Pameran ini, menurut Nathan, adalah sebuah catatan sejarah, dikemas dengan piawai dalam bahasa visual yang binal dan emosional.

Setiap garis, setiap warna, setiap torehan pisau palet dan tumpukan cat yang menggumpal, menceritakan kondisi psikis sang pelukis dalam perjuangannya menjaga budaya leluhurnya.

“Pameran ini diciptakan sebagai wujud pendharmaan para leluhur. Bukan sekedar lukisan, namun sebuah situs sejarah dengan undangan bagi para pengunjungnya, untuk berinteraksi, memberikan hormat baik dalam doa maupun sebatang dupa.”

“Karya ini adalah sebuah seruan bagi generasi penerus bangsa untuk menoleh ke belakang, belajar dari pesan luhur nenek moyang kita, menjadi para punggawa, Punggawa Budaya Nusantara,” tegas Nathan.

Profil Pelukis:

Jansen Jasien
Tempat & tanggal lahir: Gresik, 15 April 1974

Alamat: Desa Tambak Kemera’an RT 14 RW 04, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo

Istri Tercinta: Try Ativa

Anak Tersayang: Mahara Swarganessa Sinavas, Mahesa Sekarmayang Sinavas

Pendidikan Lukis: Ototidak

Website / Email:
Jansenjasien.blogspot.com/jansenjasien@yahoo.com

Konsep Berkarya:
Melukis adalah suatu kehidupan suci lahiriah dan batiniah yang menyatu, terwujud nilai-nilai misterius, religious, social budaya peradaban manusia

Pameran Tunggal:
2007 – Bingkai sejarah RSU dr Soetomo dari simpang ke Karangmenjangan, di Surabaya.

2008 – Tandjoeng Perak Tepi Laoet di Graha Pena Jawa Pos Surabaya

2008 – The History of My Life, di Telkomsel Priority Longe Srabaya

2008 – Hari Pahlawan, PWI Jawa Timur Jalan Taman Apsari Surabaya

2009 – Soerabaia di Oedjoeng Doepa di Galeri House of Sampoerna Surabaya

2011 – Art Invasion, Pameran secara mobile di Singapura

2015 – Jelajah Jagad di sekolah Selamat Pagi Indonesia (Transformer Center) Batu

2024 – Jelajah Perasaban Leluhur, PWI Jawa Timur Jl. Taman Apsari Surabaya

Pameran Bersama:
1992 – 2023 Sebanyak 50 Kali di Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Jakarta, Denpasar, Singapura, Hong Kong, Belanda.

Aktivitas Lain:
2007 – Mendirikan Kelompok Pekerja Seni Pecinta Sejarah (KPSPS) Surabaya dan hingga saat ini menjabat sebagai ketua

2008 – Menyelenggarakan penghargaan 9 tokoh pers peduli seni budaya

2008 – Menggagas tahun penghargaan 100 pusaka Surabaya bersama Surabaya Heritage

2010 – Mendirikan Sjarekat Poesaka Surabaya bersama beberapa tokoh

2013 – Penghargaan Masterpiece Indonesia Art Series

Karya Monumental:
2012 – Menemukan situs candi peninggalan Majapahit di Terung – Krian Sidoarjo

2012 – Membangun Monumen Tebu Mas di PG Ngadirejo Kediri

2021 – 2024- Menemukan Situs dan membangun, membuka Punden Kepuh Makam Mbah Bungkem, Dusun Bungkem, Desa Kweden Kembar, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto.

(kim)