Dokter RSUD dr Soetomo Surabaya Ikut Operasi Pemisahan Bayi Kembar Siam “Berkaki” Enam NTB

Ilustrasi. (iStock)

Surabaya, blok-a.com – Sedikitnya 19 orang dokter dari RSUD NTB dan RSUD dr Soetomo Surabaya diprediksi akan terlibat dalam operasi pemisahan kembar siam langka, Muhammad Karunia asal Dusun Tangis, Desa Suangi Timur, Kecamatan Sakra, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Di sini tim RSUD NTB menyiapkan 8-10 dokter untuk operasi pemisahan bayi kembar siam atau disebut paracitic ischipagus conjoint twin, sisanya merupakan dokter dari RSUD dr Soetomo, Surabaya.

Para dokter terdiri dari spesialis bedah anak, dokter spesialis anak, dokter spesialis bedah orthopedi, dokter spesialis anastesi, dokter spesialis radiologi, dokter spesialis bedah plastik, dokter spesialis urologi dan dokter spesialis patologi klinik.

Namun, saat ini pihak rumah sakit milik Pemprov Jawa Timur ini, belum menerima data medis secara utuh dari rumah sakit yang menangani bayi berusia 8 bulan ini.

Sebelumnya, di media sosial heboh oleh perempuan di NTB Lombok Timur, melahirkan bayi kembar siam dengan 1 kepala dan 6 kaki pada 10 November 2022.

Direktur RSUD Provinsi NTB, Lalu Herman Mahaputra mengatakan bahwa kembar siam itu sesuai hasil pemeriksaan medis dan penunjang lainnya pada Juni lalu sekilas mirip berkaki enam.

“Namun tubuh bayi berdempetan, nah jika berdempetan itu ya disebut kembar siam,” kata Lalu Herman Mahaputra atau dokter Jack, Selasa, 18 Juli 2023, kepada wartawan.

Dalam upaya operasi pemisahan bayi kembar siam tersebut, pihak RSUD Provinsi NTB telah membentuk tim yang akan melakukan tindakan operasi.

Tim yang dibentuk oleh RSUD Provinsi NTB beranggotakan 10 orang dokter spesialis yang diambil langsung dari RSUD Provinsi NTB. Terdiri dari dokter spesialis bedah anak, dokter spesialis anak, dokter spesialis bedah ortopaedi, dokter spesialis anastesi, dan dokter spesialis lainnya.

“Sekitar 10 dokter kita kerahkan untuk melakukan operasi itu,” kata dr. Jack.

Bayi tersebut masih dilakukan rawat jalan di RSUP NTB, bayi berbobot 8,1 kilogram ini akan dilakukan operasi di Rumah Sakit dr Soetomo Surabaya, milik Pemprov Jawa Timur.

Sementara itu dr Joni Wahyudianto, Direktur RSUD dr Soetomo, melalui Ketua Tim Dokter kembar siam, Molly Edward, belum memiliki data medis lengkap yang bisa menunjang observasi dengan fakta medis.

Menurutnya, ada beberapa tahapan sebelum dilakukan operasi pemisahan, selain data medis, harus ada serahterima dari rumah sakit dan persetujuan orang tua dari bayi kembar siam.

RSU dr Soetomo Surabaya menyatakan siap menerima dan menangani bayi kembar siam tersebut.

Untuk mendukung pelaksanaan operasi pemisahan pada bayi kembar siam ini, ditanggung BPJS.

Sebelumnya, Direktur RSUD dr Soedjono Selong dr Hasbi Santosa mengatakan pihaknya ikut memantau perkembangan bayi berjenis kelamin laki-laki yang saat ini usianya baru 8 bulan.

Kondisi kembar dempet ini pada tubuh bagian bawah. Hanya memiliki satu alat kelamin untuk berdua dan tidak memiliki buah zakar. Rencananya operasi dilakukan saat usia memasuki 10 bulan.

“Ada teori 10 namanya, sudah berusia 10 bulan, berat 10 kg dan HB di atas 10,” tuturnya.

Kasus ini lebih mudah dibanding bayi kembar siam dari Desa Jurit, Inaya dan Anaya.

Secara teori pemisahan Inaya dan Anaya jauh lebih sulit operasi pemisahannya karena menyangkut banyak organ dan memisahkan dua nyawa. Beda dengan kasus bayi asal Suangi ini, satunya tidak memiliki kepala.(kim/lio)