Santri di Mojokerto Diduga Jadi Korban Penganiayaan Hingga Dilarikan ke Rumah Sakit

ilustrasi penganiayaan
Ilustrasi. (iStockphoto)

Mojokerto, blok-a.com – Seorang santri berinisial MAS, yang berasal dari Medan, Sumatera Utara, diduga mengalami penganiayaan di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Kembangbelor, Pacet, Kabupaten Mojokerto.

Akibat insiden ini, korban harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Sumberglagah, Pacet.

Kabar yang beredar menyebutkan bahwa MAS dianiaya oleh temannya hingga kondisi kesehatannya memburuk.

Namun, setelah wartawan blok-a.com menelusuri lebih lanjut, pihak pesantren masih belum bersedia memberikan keterangan resmi mengenai kejadian tersebut.

Salah seorang ajudan dari pendiri pondok pesantren, Prof. Dr. KH. Asep Saefudin Chalim, saat dikonfirmasi melalui telepon, membenarkan adanya insiden tersebut.

Namun ia mengaku tidak mengetahui detail peristiwa itu karena sedang berada di luar Jawa.

“Iya benar pak, kami masih di luar Jawa. Kronologi seperti apa kami tidak tahu, dan saya hanya ajudan Abah Yai,” ujarnya.

Terpisah, putra pendiri pesantren Amanatul Ummah, Muhammad Al Barra (Gus Barra), menjelaskan melalui pesan WhatsApp bahwa ia tidak mengetahui secara rinci kronologi kejadian tersebut.

Menurut Gus Barra, insiden itu terjadi sekitar 10 hari lalu dan bukan penganiayaan, melainkan selisih paham antara santri.

“Saya tanyakan ke gurunya bukan penganiayaan, selisih paham saja dengan teman-temannya. Tidak disebutkan selisih pahamnya, karena menyangkut nama baik anaknya, keluarga korban, pamannya, dan guru di pondok,” ungkap Gus Barra, Rabu (25/9/2024) kepada blok-a.com.

Gus Barra juga menegaskan bahwa kondisi korban tidak kritis seperti kabar yang beredar, bahkan tidak ada luka lebam.

Namun, dokter menyarankan untuk melakukan operasi karena ada bagian tubuh yang memerlukan penanganan medis lebih lanjut.

“Orang tua korban sudah menemani sejak hari Jumat yang lalu, kalau kritis tidak. Malah lebam-lebamnya tidak ada, cuma mau diperiksakan ke dokter, karena ada bagian yang sakit, kata dokter harus dioperasi. Sekarang anaknya sudah baikan, sudah ditemani orang tuanya. Dan saya tanyakan ke gurunya, orang tuanya tidak mau kalau ada media yang meliput,” tambahnya.

Hingga berita ini ditayangkan, belum ada laporan resmi dari pihak keluarga korban ke pihak kepolisian terkait dugaan penganiayaan ini. (sya/lio)