Mojokerto, blok-a.com – Ramadan menjadi salah satu bulan yang paling dinanti oleh umat Muslim. Datangnya Ramadan identik dengan berbagai aktivitas ibadah seperti puasa, tadarus, tarawih, sedekah, dan masih banyak lagi.
Namun selain itu, di tengah masyarakat Muslim Indonesia terdapat berbagai tradisi yang rutin dilakukan setiap Ramadan. Tak terkecuali oleh masyarakat Mojokerto.
Berikut tradisi Ramadan di Kota Mojokerto yang masih terus lestari hingga kini:
Ngabuburit
Kata ngabuburit sebenarnya berasal dari bahasa Sunda, burit, yang berarti sore atau petang.
Ini dapat diartikan, menunggu sore atau mengisi waktu hingga sore tiba. Pemakaiannya sebenarnya umum saja.
Namun, kini ngabuburit begitu masif digunakan di bulan puasa. Yakni berarti melakukan aktivitas sambil menunggu saatnya buka puasa dengan melakukan berbuka puasa. Biasanya dilukan sekitar 1-2 jam sebelum waktu berbuka puasa.
Tidak ada kegiatan spesifik dalam ngabuburit. Salah satu yang paling sering dilakukan adalah berburu takjil atau kudapan untuk berbuka puasa.
Nah, untuk masyarakat Kota Mojokerto dan sekitarnya, salah satu rekomendasi tempat yang bisa dikunjungi adalah Pasar Takjil yang berlokasi di Pasar Loak Ketidur, Kecamatan Prajuritkulon.

Tidak hanya menyediakan beragam makanan dan minuman produksi UMKM Kota Mojokerto, Pasar Ta’jil juga menyediakan sejumlah wahana permainan ala pasar malam.
Sehingga pasar yang buka mulai pukul 15.30 WIB ini cocok untuk menjadi destinasi ngabuburit berbagai usia.
Patrol Ramadan
Tradisi patrol biasanya dilakukan oleh sekelompok warga untuk membangunkan warga lainnya, untuk segera bangun dan menyiapkan sahur.
Ini dilakukan berkeliling kampung sambil memainkan alat musik sederhana seperti kentongan atau drum bekas denngan meneriakkan “sahur-sahur” atau berselawat.
Seiring berkembangnya zaman, Patrol Ramadan juga turut berkembang. Instrumen musik yang digunakan semakin bervariasi.
Alunan musik dan jargon-jargon yang diteriakkan juga semakin menarik dan penuh kreatifitas. Sehingga patrol bahkan menjadi hiburan tersendiri di waktu sahur.
Melihat potensi kreatifitas tersebut, Pemkot Mojokerto pun rutin menggelar Lomba Patrol Ramadan.

Tahun ini, dijadwalkan akan digelar pada 27 Maret 2024, mulai pukul 20.00 WIB. Lomba ini digelar dengan sejumlah kategori peserta.
Yakni, pelajar SD, SMP, SMA/SMK, dan Karang Taruna. Bagi para pemenang nantinya akan mendapat hadiah berupa tropi, sertifikat, dan uang pembinaan.
Weweh
Istilah weweh merupakan serapan dari bahasa Jawa yakni wewehono atau nguwehi yang berarti memberi. Sehingga dapat dimaknai saling berbagi atau sedekah, serta menjadi simbol perekat tali persaudaraan.
Weweh biasanya banyak dilakukan pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan atan mulai malam 21 Ramadhan.
Tradisi ini dilakukan oleh anak-anak datang ke rumah sanak saudara dan tetangga dengan membawa rantang beriskan lengkap dari nasi hingga sayur beserta lauknya.
Tidak ada ketentuan khusus, menu apa yang harus dibagikan. Belakangan bahkan semakin banyak masyarakat yang memilih wadah box atau sekali pakai lainnya.
Setelah nenerima wewehan, tuan rumah terkadang juga akan memberikan sejumlah uang atau sangu untuk anak yang telah mengantar wewehan. Tidak ada nominal pasti dalam hal tersebut, tuan rumah bebas menentukan besarannya.
Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak, sehingga mereka akan sangat antusias untuk membantu orang tua mereka weweh.(sya/lio)






Media Sosial