Magetan, blok-a.com – SMA Negeri 2 Magetan dalam pawai HUT ke-79 Kemerdekaan RI tampil memukau di Ex Distrik Maospati Minggu (25/8/2024).
Terlihat siswa-siswi SMAN 2 Magetan menampilkan salah satu kearifan budaya lokal Kabupaten Magetan.
Menurut Suroso Kepala SMAN 2 Magetan, dalam pawai budaya ini tema yang diusung adalah “Tradisi Dawuhan Sendhang Mudal’ kearifan lokal.
“Senada dengan tema Kirab Budaya Pemkab Pada Tahun ini ‘Bangga Magetan Cinta Unesa Jaya Negeriku’ dengan bangga kami menampilkan kearifan lokal yang ada di daerah magetan yaitu ‘Tradisi Dawuhan Sendhang Mudal, ” kata Suroso.
Kata Suroso, tradisi tersebut berada di Desa Pacalan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan.
Dikisahkan, kala itu ada seorang putri bernama Roro Kembang Sore yang hidup berbahagia dengan seorang pangeran bernama Lembu Peteng.
Namun, karena ulah pangeran Kalang yang iri dengan kebahagian mereka berdua, lalu si Pangeran pemberontak ini pada akhirnya menghabisi nyawa Pangeran Lembu Peteng.
Hingga pada akhirnya, Roro Kembang Sore ini bersedih lalu mengasingkan diri ke Gunung Lawu dan di sana dia bertemu Nyai Nolodipo di daerah Pacalan.
Mereka lantas mendirikan masjid dan memiliki banyak santri. Masjid tersebut diberi nama Kembang Sore atau Al Furqon yang sekarang dikenal dengan masjid Ad Dhuha.
“Nah di dekat masjid tersebut ada sumber air yang bernama sendhang mudal yang menjadi sumber kehidupan dan kesejahteraan masyarakat sekitar, sehingga setiap bulan suro masyarakat setemoat mengadakan tasyakuran dengan menyembelih 2 ekor kambing dengan harapan sumber air ini tetap lestari sehingga dapat memberi sumber air melimpah untuk masyarakat,” paparnya.
Untuk itu Suroso berharap agar para generasi muda dapat lebih inten mengenal kearifan lokal yang berada di Kabupaten Magetan.
“Selain menjaga kelestarian budaya, ini bisa menjadi tempat bagi generasi muda khususnya di wilayah Magetan untuk menambah wawasan sejarahnya,” pungkasnya.(nan/kim)






Media Sosial