Jombang, blok-a.com– Dua aktivis HAM asal Swedia, Benjamin dan Sanna, sangat terkesan dengan seni budaya Wayang Topeng Jati Duwur.
Bahkan mereka berjanji akan ikut mempromosikan Seni Wayang Topeng Jatiduwur, Jombang ke Eropa.
Aktivis HAM asal Swedia itu tiba di Sanggar Tri Purwo Budoyo, Desa Jati Duwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, Jumat (1/12/2023) petang setelah menempuh perjalanan 85 Kilometer dari Surabaya.
Keduanya memakai sepeda pancal melanjutkan rute menuju Jakarta. Tiba di Jombang, di desa wisata budaya kelahiran seni Topeng asli Jombang ini, keduanya terkesima.
Di sanggar ini mereka disambut puluhan anak remaja yang menyajikan tarian topeng Kelono, dan Gladen.
Kekompakan penari yang masih berusia 12 -an tahun ini, memukau Benjamin dan Sanna dan beberapa kali geleng kepala tanda takjub.
“I haven’t ever been seeing dance like that, its so amazing. (Saya tidak pernah melihat tarian semacam ini, sungguh menakjubkan),” ujar Benjamin, berkomentar.
Setelah disambut tarian, dan gamelan, Benjamin dan Sanna secara bergantian memberikan ungkapan perkenalan.
Di hadapan anggota sanggar Tri Purwo Budoyo ini, Benjamin, menjelaskan bahwa dirinya berharap keceriaan anak-anak di Indonesia membawa dukungan moral kepada anak-anak di Sahara Barat, negara yang sedang dijajah Maroko.
Kehadirannya di Indonesia, negara ke-18 dari 30 negara yang akan dikunjungi sebagai bagian dari kampanye Solidarity Rising, NGO, yang dia ikuti guna menunjukkan dunia bahwa di belahan bumi Sahara Barat, ada penindasan.
“Semoga perhatian dunia tidak hanya kepada Palestina saja, tapi juga dukungan bagi Sahara Barat,” ujarnya.
Misi mengungkap kondisi Sahara Barat yang menjerit itu, dilakukan dengan naik sepeda pancal bertolak dari Swedia, dan finish di Sahara Barat.
“The next year, we have finish this duty,” ujar Benjamin.
Sebelumnya, Benjamin dan Sanna, melakukan paparan jeritan dan kondisi di Sahara Barat di hadapan mahasiswa sejarah Universitas Airlangga, Universitas Negeri Surabaya, PWI Jatim, dan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, baru kemudian melanjutkan perjalanan ke Jombang.
“Setelah Jombang kita menuju Nganjuk, istirahat, lalu ke Ngawi, Sragen, Pekalongan, lalu Jogja,” ujar Benjamin.
Sementara itu, Ketua Sanggar Tri Purwo Budoyo, Sulastri Widyanti, mengaku senang dengan kehadiran teman baru dari Swedia.
Kehadiran mereka diharapkan jadi membakar api semangat remaja Jati Duwur untuk berlatih menari, dan melestarikan budaya warisan leluhur ini.
“Terima kasih Mister Benjamin dan Mrs Sanna. Kami mohon maaf hanya bisa memberikan makanan tradisional Jawa,” ujarnya.
Sementara itu, tokoh pemuda Jati Duwur, Isma Hakim Rahmat, mengatakan momentum kali ini sangat tepat untuk saling mendukung menjalankan misi kemanusiaan dan budaya.
“Salam kita ke anak-anak Sahara Barat, kami mendukung kemerdekaan nya,” ujar Cakisma.
Topeng Jati Duwur Reborn
Kata Cakisma, seni wayang topeng Jati Duwur, krisis sumberdaya pemain. Namun kali ini, berkat kekompakan pemuda desa yang tergabung dalam Komunitas Pemuda Kreatif Peduli Desa (Kopped), seperti terlahir kembali.
“Alhamdulillah, untuk generasi penerus Topeng Jati Duwur sudah siap, dan seperti terlahir kembali,” ujar Cakisma.
Diakui bahwa selama satu dekade ini, pelaku seni dan wayang Topeng Jati Duwur ditinggal generasi. Ada yang keluar desa karena seni wayang tak menjanjikan secara ekonomi, kurangnya perhatian pemerintah daerah, banyak pemain meninggal dunia.
“Sepuluh tahun terakhir memang pemain utama tinggal satu yang masih hidup, penabuh kendang,” ujarnya lagi.
Tapi kini mulai dari penari, pemain, pengrawit hingga dalang sudah ada penerusnya dari putra daerah sendiri.
“Kita sengaja bawa Benjamin dan Sanna, untuk ikut mempromosikan seni budaya ini, ke Eropa,” pungkasnya. (sya/bob)
