Gresi, blok-a.com – Dana infaq Masjid An Nur Perumahan Green Hill Desa Sekarkurung, Kecamatan Kebomas, Gresik sebesar Rp 185 juta diduga digelapkan oknum mantan pengurus takmir masjid setempat.
Penggelapan dana ratusan juta itu raib digondol oleh mantan oknum takmir masjid di Gresik tersebut itu sudah dicurigai sejak tiga tahun lalu.
“Sebenarnya kejadian hari ini indikasinya sudah bisa diprediksi beberapa tahun yang lalu. Salah satu indikasi takmir sebelumnya itu tidak transparan, arogan dan maunya jadi takmir seumur hidup,” kata salah satu warga Perumahan Green Hill yang meminta namanya dirahasiakan, Sabtu (3/2/2024).
Kecurigaan dana infaq itu diduga raib digelapkan oleh mantan oknum takmir masjid karena oknum tersebut ngotot menganggarkan Rp 40 juta untuk memindahkan trafo listrik.
Padahal ada warga yang mengajukan diri untuk memindahkan trafo listrik secara gratis. Narasumber atau sebut saja GH pun mengetahui sendiri ada warga yang ingin mengajukan diri untuk memindah trafo listrik masjid secara gratis.
“Lalu ada warga yang menawarkan memindah trafo gratis,” kata GH.
Sayangnya kata dia, tawaran gratis itu justru ditolak berjamaah oleh jajaran takmir dan bahkan sejumlah ketua RT saat itu juga andil menolak karena diprovokasi oleh salah satu pengurus takmir.
Alasanya pengurus takmir waktu itu anggaran sekitar Rp 40 juta itu sudah final karena diputuskan melalui rapat takmir sehingga tidak bisa diganggu gugat.
Padahal kala itu, ada salah satu pengurus takmir masjid yang menyebut pembayaran listrik belum dibayar.
“Ada yang nawari gratis ditolak. Masjid itu kaya milik pribadinya. Itu kejanggalan awal. Padahal saat penawaran gratis melalui rapat itu pengurus takmir juga mengaku yang konon katanya belum membayar ke PLN,” tutur GH.
“Tetapi karena ada oknum pengurus takmir yang selalu mengaku kenal dengan pejabat, kejaksaan, kapolres, kapolda dan bahkan menteri katanya dia kenal. Warga percaya dengan omongan itu,” imbuhnya lagi.
GH menambahkan trafo itu ngotot untuk dipindahkan dengan anggaran sebesar itu karena juga ada rencana dari mantan oknum takmir masjid yang ingin membangun menara. Namun menara masjid itu juga tak kunjung dibangun hingga sekarang.
Namun, sebaik-baiknya tupai meloncat pasti jatuh juga. Penilapan dana masjid ini pun terkuak setelah salah satu pengurus takmir masjid membocorkan terjadinya penilapan.
“Nah awalnya dari penolakan pengajian Al-hikmah. Mungkin kuwalat Kyai Rori. Akhirnya pengurus Al-hikmah melaporkan penolakan takmir ke ketua RW. Ditindaklanjuti dengan rapat yang melibatkan ketua RT dan tokoh lainya,” bebernya.
“Kecurigaan kian tajam lalu para RT dan warga meminta klarifikasi. Salah satunya meminta membuka berapa sebenarnya keuangan infaq yang ada di rekening sampai saat ini,” bebernya lagi.
Isu raibnya dana infaq-pun menggelinding deras mulai RT, RW dan warga meminta segera dilakukan pemilihan pengurus takmir yang baru. Beberapa hari kemudian kata sumber ini dilakukan pemilihan pengurus yang baru.
Dugaan penilapan dana infaq ini akhirnya tidak jadi dugaan lagi. Hal itu diketahui setelah dicetaknya rekening bank masjid tersebut. Jumlah saldonya hanya Rp 182 ribu. Padahal setiap Jumat diumumkan terdapat dana Rp 189 juta.
“Setelah ketua takmir yang baru terpilih malam itu juga pengurus lama maunya menyerahkan semua ke pengurus baru. Namun ditolak. Karena setelah printout rekening di Bank Muamalat dibuka hanya ada dana sebesar Rp 182 ribu. Padahal setiap hari Jumat di umumkan dana mencapai Rp 189 juta,” ungkapnya.
Akhirnya ungkap dia, para ketua RT/RW dan warga menanyakan kepada Ketua Takmir Masjid Annur Gresik berinisial MW soal dana infaq yang dilakukan penggelapan itu.
MW menyebut bahwa yang menyetorkan dana ke Bank Muamalat setiap ada infaq masuk di hari Jumat adalah pengurus masjid berinisial F.
“Padahal F ini bukan bendahara. Bendaharanya setahu saya di dalam struktur ketakmiran berinisial M. Dan dalam printout buku tabungan sejak tahun 2021 tidak pernah ada dana tersetor di rekening. Ini jelas penggelapan. Meski dikembalikan pidananya tidak akan hilang. Kecuali pelapor (warga) mencabut laporanya. Itu pun prosedurnya juga rumit,” tandasnya.
Saksi lain yang ikut dalam rapat juga mengaku mengelus dada dengan penggelapan dana infaq masjid di Gresik ini. Tetapi kata dia dengan kejadian ini pelaku sama dengan mempermalukan umat Islam khususnya warga Preumahan Green Hill. Karena atas kejadian ini kami diluaran selalu menjadi obyek wawancara.
“Cik kebacute takmir masjid kampungmu. Mosok duit infaq di embat. Ya Allah ya rob. Itu kata-kata yang selalu dilontarkan ke saya. Kan pelakunya bukan saya. Kenapa harus malu. Yang malu ya merekalah. Justeru saya bangga karena warga berhasil membongkar kedok mereka'” ujar sumber ini.(ivn/bob)





Media Sosial