Warga Jombang Keluhkan Kelangkaan LPG 3 Kg, UMKM Terancam Terhenti

Tumpukan LPG kosong di salah satu toko pengecer imbas kelangkaan LPG 3kg (foto: Blok-a.com/Syahrul Wijaya)
Tumpukan LPG kosong di salah satu toko pengecer imbas kelangkaan LPG 3kg (foto: Blok-a.com/Syahrul Wijaya)

Jombang, blok-a.com – Kelangkaan gas LPG bersubsidi ukuran 3 kilogram mulai dikeluhkan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Jombang sejak awal April 2026. Kondisi ini membuat masyarakat kesulitan mendapatkan pasokan, bahkan harus mencari hingga ke luar kecamatan.

Salah satu agen LPG di Kecamatan Peterongan, Akmal, mengungkapkan bahwa keterlambatan distribusi sebenarnya sudah terjadi cukup lama. Namun, dalam dua bulan terakhir intensitasnya meningkat dan mencapai puncak dalam sepekan terakhir.

“Pengiriman sudah sering terlambat sejak sekitar satu tahun lalu, tapi dua bulan ini makin sering. Puncaknya ya minggu ini,” ujarnya, Sabtu (11/4/2026).

Menurutnya, keterbatasan pasokan memicu kepanikan warga. Saat stok datang, masyarakat langsung memborong sehingga dalam waktu singkat elpiji kembali habis.

“Kemarin sempat datang, tapi tidak sampai satu jam sudah habis diserbu. Sekarang kosong lagi, belum tahu kapan kiriman berikutnya,” katanya.

Kelangkaan ini turut berdampak pada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya sektor kuliner. Nasihin (43), pedagang nasi pecel, mengaku kesulitan mendapatkan elpiji untuk kebutuhan memasak sehari-hari.

Ia bahkan harus berkeliling ke sejumlah wilayah seperti Peterongan dan Sumobito, namun tidak menemukan stok. Setelah pencarian cukup lama, ia akhirnya mendapatkan elpiji di wilayah Mojoagung.

“Sudah muter-muter ke beberapa tempat, banyak yang kosong. Akhirnya ketemu di Mojoagung,” ungkapnya.

Nasihin mengaku khawatir kondisi ini akan mengganggu keberlangsungan usahanya jika terus berlanjut. Ia bahkan mempertimbangkan untuk menghentikan sementara aktivitas berjualan.

“Kalau terus langka, ya terpaksa libur jualan. Mau masak pakai apa kalau gasnya tidak ada,” ujarnya.

Kelangkaan serupa juga terjadi di wilayah utara Brantas, tepatnya di Desa Tapen, Kecamatan Kudu. Salah satu warga, Yunan, menyebut kondisi tersebut sudah berlangsung sekitar dua pekan.

Menurutnya, selain sulit didapat, harga LPG 3 kilogram juga mengalami kenaikan di tingkat pengecer.

“Sekarang harga dua puluh sampai dua puluh dua ribu. Masyarakat tetap beli meskipun mahal, karena memang butuh. Tapi di banyak toko sudah ada tulisan LPG kosong,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).

Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi kelangkaan tersebut. Hingga kini, belum ada penjelasan resmi terkait penyebab terganggunya distribusi LPG 3 kilogram maupun kepastian kapan pasokan di wilayah Jombang kembali normal. (Sya/ova)

Exit mobile version