Surabaya, blok-a.com – Hall PWI Jawa Timur di Jalan Taman Apsari, 15-17 Surabaya, Rabu (28/2/2024) sore dipenuhi lukisan yang memvisualkan zaman Majapahit.
Begitu kaki melangkah memasuki ruangan ini, bau aroma khas dupa menyeruak menusuk indra penciuman.
Di dekat pintu masuk sudah disambut lukisan besar berjudul Bethara Guru. Goresan palet di kanvas terlihat pelik, eksotik.
Di sebelahnya, terpajang lukisan yang mencitrakan sesosok punggawa kerajaan bermahkota. Namun di kepalanya terdapat dua tanduk kerbau.
Suasana magis pun makin kuat. Ditambah lagi ada instalasi tempat bakar dupa, lengkap dengan sesajen. Di atas tata’an tersusun rapi puluhan keris, dan tumbak pusaka.
Di lantai, sengaja dihampar pecahan gerabah kuno, yang konon bekas peninggalan dinasti Ming dan Majapahit, temuan pelukis Jansen Jasien (JJ), yang menggelar pameran lukisan tunggalnya di HPN 2024 ini.
Di dinding ada 5 lukisan besar terpajang dengan visual para leluhur Majapahit. Ada pula visual sosok Raja Ming, penguasa Mongol.
Lukisan maestro di pameran tunggal ini menceritakan berdirinya Majapahit, leluhur Tanah Jawi.
Pengunjung dan undangan yang hadir di acara pembukaan pameran dalam rangkaian HPN 2024 ini ikut larut.
Terlebih saat Ketua PWI Jatim Lutfhil Hakim, mendaulat Ketua Dewan Kehormatan PWI Jatim Joko Tetuko, spontan membacakan puisinya.
Di depan undangan yang berdiri ini, terdapat instalasi patung setengah badan dan tanpa kepala yang disusun dari pecahan gerabah kuno, temuan pelukis JJ, yang juga volunteer ekskavasi benda purbakala asal Krian, Sidoarjo ini.
Tak hanya lukisan besar. Terdapat beberapa kanvas berukuran A3 dan A4 dipenuhi goresan palet binal dan liar dari tangan JJ ini.
Tercipta beragam visual dipamerkan, ada tema penanggungan, anak dan ibu, legong sang raja , arca mayapada, wahyu keprabon alas tarik, mepe gabah, wibawaning pusoko, alas tarik, candi jawi dan ratu Ken Dedes.
Mengawali sambutan, pembukaan pameran, Ketua PWI Jatim, Lutfil Hakim, menjelaskan karya seni lukis ini mirip jurnalistik.
Dalam pameran kali ini menjadi wujud apresiasi dari para jurnalis terhadap para pelukis.
“Yang kedua, saya kira lukisan itu bukan hanya sekadar gambar mati tapi saya berharap teman-teman jurnalis melihat lukisan itu tak hanya dari gambarnya saja tapi filosofi di balik itu yang kemudian bisa diambil sebagai spirit untuk terus bagaimana menghidupkan profesi,” ujar Lutfil.
Dengan demikian lukisan-lukisan itu bagaimana publik disuguhkan dengan berita-berita tentang pesan lukisan itu.
“Dan yang ketiga sesuai pertanyaan bagaimana pers memang harus betul-betul bisa memberikan klarifikasi kepada publik bisa memberikan pencerahan di tengah terkontaminasinya ruang publik sekarang ini,” tambahnya.
“Dan di tengah narasi di luar yang negatif dan kebingungan publik ini saya kira produk jurnalistik harus menjadi tempat konfirmasi dan verifikasi, bagi publik,” tukasnya.
Menurutnya, ke depan tugas jurnalis sehari-hari menelusuri berita-berita yang sekiranya dianggap hoaks dan melenceng untuk segera dibuatkan pojok ruang publik di media untuk konfirmasi dan terkoneksi dengan berita-berita tersebut.
“Saya kira yang paling penting poinnya, bagaimana memperingati hari pers ini ada makna. Tidak sekadar selebrasi saja. Saya kira ada ekspresi, teman-teman untuk menentukan komitmen sebagai jurnalis yang profesional yang memberi tuntunan dan ilmu tentang sejarah budaya leluhur sebagai penyeimbang masa depan. Di balik karya-karya yang indah itu banyak makna banyak di dalamnya,” ujarnya lagi.
Sebelumnya, Natan Santoso, kurator seni lukis, mengatakan bahwa seni dan budaya, adalah jejak manusia pada peradabanya.
Pameran ini adalah sebuah catatan sejarah, dikemas dengan piawai, dengan goresan pelukis Jansen Jasien, yang binal dan emosional.
Pisau palet, tumpukan cat yang menggumpal menceritakan kondisi psikis sang pelukis.
“Menjadi wujud pendharmaan para leluhur. Bukan sekadar lukisan namun sebuah situs sejarah,
Karya ini adalah sebuah seruan bagi generasi penerus bangsa untuk menoleh ke belakang, belajar dari pesan luhur nenek moyang menjadi punggawa punggawa budaya nusantara,” ujarnya.
Pameran seni jadi tempat selfie dan hobi yang mahal untuk jadi ajang gengsi.
Dia saat ini mengaku priharin, karena karya seni lukis yang menjadi catatan sejarah demikian sudah menghilang.
“Banyak generasi tidak tahu kejayaan leluhur. Dan ini membahayakan. Sementara di budaya asing terus diekspose kehebatannya,” ujarnya.
Untuk itu dia membentuk gerakan punggawa budaya nusantara.
Dalam rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2024 dan HUT PWI ke 78 Tingkat Jawa Timur ini diisi aneka kegiatan, di antaranya pagelaran Musik Jazz dan Pameran Lukisan.
Musik Jazz relatif sama dengan jurnalisme, yakni sama-sama bebas improvisasi namun ada regulasi mengepungnya, khususnya kode etik jurnalistik.
Di sini, pelukis Jansen Jasien (JJ), tampil tunggal pada pameran lukisan di moment HPN 2024 dan HUT PWI ke-78 tingkat Jatim, mengambil tema, Jelajah Peradaban Leluhur.
JJ mencoba merekam sejarah peradaban para leluhur dan mengekspresikannya melalui oil on canvas.
Dia tidak sekadar menyuguhkan lukisan, tapi di balik itu ada pesan kuat tentang pentingnya menjadikan budaya leluhur sebagai jangkar kehidupan anak bangsa ke depan.
Pada pameran tunggalnya, JJ juga menyisipkan sejumlah artefak hasil penjelajahannya, sehingga semakin mengkentalkan ruang pameran dengan nuansa peradaban para leluhur, termasuk harum bau dupa, kemenyan dan gondo arum kembang sekar.
Pengunjung digiring untuk masuk ke ruang masa silam, sebagai upaya pengenalan pada karya, peradaban dan kebudayaan para leluhur.(kim)
